Jakarta - Kecanduan seks atau biasa disebut andromania, atau cytheromania, atau hysteromania adalah suatu tingkah laku atau kebiasaan akibat dorongan seksual yang luar biasa intens.
Kecanduan seks dapat diartikan sebagai tingkah laku akibat dorongan seksual yang luar biasa atau terobsesi akan seks. Dalam pikiran orang yang bersangkutan selalu di dominasi oleh seks, sehingga pekerjaan atau ML jadi terganggu.
Seorang dikatakan kecanduan seks, apabila dirinya sangat terobsesi pada seks, sehingga tidak lagi mampu mengontrol hasrat seksnya. Tidak jarang tindakannya menyerempet bahaya, bahkan berisiko mempermalukan dirinya.
Biasanya, setelah menjalankan aksi, penderita kecanduan seks ini akan diliputi perasaan bersalah. Namun ia sering merasa tidak berdaya mengendalikannya. Ini berbeda dengan seorang penikmat seks yang biasanya masih melihat-lihat situasi dan memilih bermain aman.
Pecandu seks dapat mendatangkan 'malapetaka' bagi dirinya sendiri, apalagi bila tidak disertai pikiran dewasa. Masalahnya pecandu seks biasanya merasa tidak ada yang salah dengan dirinya. Kebanyakan dari pecandu seks ini akan menyangkal jika ada yang mengatakan dirinya bermasalah.
Ada beberapa gejala yang mungkin bisa menjadi tanda-tanda jika seseorang mengalami kecanduan terhadap seks seperti yang dikutip dari situs askmen.com.
Gejala itu bisa berupa:
1. Masturbasi berlebihan.
2. Menjalin hubungan dengan banyak pasangan.
3. Terobsesi dengan materi pornografi.
4. Melakukan seks lewat telepon atau komputer (cybersex) secara intensif.
5. Terlibat mendalam dengan prostitusi.
6 Suka pamer genital (exhibitionism).
7. Suka mengintip orang berhubungan seks.
8. Suka melakukan pelecehan seksual.
9. Pemerkosaan atau kekerasan seksual lainnya.
10. Pedophilia.
Terdapat pula bentuk maniak seks lainnya seperti:
1. Dorongan seks abnormal (erotomania)
2. Keinginan seks berlebihan (nymphomania)
3. Ketertarikan seks abnormal (aphrodisiomania)
4. Nafsu seks wanita yang sangat kuat (satyromania)
5. Obsesi seks abnormal dengan wanita (gynaecomania)
6. Obsesi seks dengan mayat atau (necromania), dsb.
Menurut poling askmen.com, sekitar 2-6% dari jumlah populasi penduduk dunia mengalami kecanduan seksual. Tapi bisa jadi kenyataannya lebih besar dari jumlah itu, mengingat para pencandu biasanya malu mengakui keadaan dirinya, dan tak punya keberanian mengunjungi dokter untuk mencari bantuan.
Batasan untuk yang mengidap ketagihan seks ini pun tidak terbatas usia, pekerjaan dan jenis kelamin. Sejak penggunaan internet semakin meluas, dan layanan jasa berbau seks semakin murah dan mudah, para ahli memperkirakan para penderita sex addict semakin bertambah jumlahnya.
Beda Pecandu dan Penikmat
Pecandu seks seringkali tidak peduli jika dirinya dalam bahaya saat ingin melakukan aksi seksualnya. Sedangkan penikmat seks masih bisa berpikir 'lurus' dan mundur, jika aksi seksualnya akan mendatangkan bahaya atau malu, baik pada dirinya ataupun pada pasangannya. Sementara pecandu akan jalan terus dan tidak peduli dengan konsekuensinya.
Seringkali pecandu merasa malu atau bersalah setelah melakukan aksinya, tapi tetap saja ia tak bisa mengontrol hasratnya. Umumnya mereka tidak mendapatkan kepuasan berarti dari aksinya, hanya kesenangan sesaat seperti jika orang kecanduan narkoba sedang high.
Banyak orang yang berpikir kecanduan seks seharusnya lebih mudah untuk berhenti dibandingkan kecanduan narkoba, alkohol atau merokok, sebab tidak melibatkan zat kimia pecandu. Namun ternyata tidak juga.
"Dalam kecanduan seks, dan juga kecanduan judi, kita memang tidak memasukkan zat kimia dalam tubuh. Sebenarnya zat kimia yang membuat kita kecanduan diproduksi oleh otak kita, dengan konsumsi bahan kimia dari luar maupun tidak," kata Dr Patrick Carnes, direktur bagian penyimpangan seksual di Meadows Treatment Center, Arizona, AS.
Mengobati kecanduan seks, seperti kecanduan lainnya, sangat tergantung dari orang bersangkutan. Jika ia bisa menyadari bahwa perbuatannya salah dan ada kemauan untuk mengubahnya, pengobatan menjadi lebih mudah.
Proses pengobatan bisa berupa serangkaian terapi mengenai kesehatan seksual, hubungan cinta yang sehat, pernikahan, atau mengikuti program support group. Terkadang obat-obatan tertentu, seperti prozac atau anafranil, diperlukan untuk menahan dorongan seksual yang berlebihan. [L1] inilah.com
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar